Riwayat hidup Sheikh Abdul Qadir Al Jailani


Riwayat hidup
Sheikh Abdul Qadir Al Jailani

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz

NASAB
Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, pada bulan Ramadhan 470 H, bertepatan dengan th 1077 M. Ayahnya bernama Shahih, seorang yang taqwa keturunan Hadhrat Imam Hasan, r.a., cucu pertama Rasulullah saw, putra sulung Imam Ali ra dan Fatimah r.a., puteri tercinta Rasul. Ibu beliau adalah puteri seorang wali, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husein, r.a., putera kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian, Sayid Abdul Qadir adalah Hasani sekaligus Huseini.

MASA MUDA
Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakkur dan sering melakukan agar lebih baik, apa yang disebut 'pengalaman-pengalaman mistik'. Ketika berusia lapan belas tahun, kehausan akan ilmu dan keghairahan untuk bersama para saleh, telah membawanya ke Baghdad, yang kala itu merupakan pusat ilmu dan peradaban. Kemudian, beliau digelari orang Ghauts Al-Azam atau wali ghauts terbesar.

Dalam terminologi kaum sufi, seorang ghauts menduduki jenjang ruhaniah dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan ridha Allah bagi ummat manusia setelah para nabi. Seorang ulama' besar di masa kini, telah menggolongkannya ke dalam Shaddiqin, sebagaimana sebutan Al Qur'an bagi orang semacam itu. Ulama ini mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang terjadi pada perjalanan pertama Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 80

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]
      
Risalah 80
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



 
Antara aku, kau dan ciptaan hanya ada Dia, sebagaimana antara langit dan bumi. Maka, jangan memandangku sebagai mereka, jangan pula memandang mereka sebagai aku.

Bertanyalah Abdul Aziz, puteranya, kepadanya tentang keadaannya. "Hendaknya jangan bertanya kepadaku tentang sesuatu pun. Aku sedang mengalami perubahan ma'rifat," jawabnya.

Selanjutnya dikatakan, Abdul Aziz bertanya kepadanya tentang penyakitnya. "Tak satu insan pun, tak satu jin pun, tak satu malaikat pun tahu penyakitku. Pengetahuan-Nya tak terhapus oleh perintah-Nya. Perintah berubah, sedang pengetahuan tak berubah. Allah Maha berkehendak, dan oleh-Nya Kitab Suci mewujud.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 79

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 79
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



 
Kala sang wali menghadapi sakaratul maut, puteranya, Abdul Wahab berkata kepadanya, "Apa yang mesti kulakukan sepeninggal ayah?" "Kamu mesti takut kepada-Nya, jangan takut kepada selain-Nya, jangan berharap kepada selain-Nya, dan berpasrahlah hanya kepada-Nya," jawabnya.

Selanjutnya ia berkata, "Aku adalah biji tak berkulit. Orang lain telah datang kepadaku; berilah mereka tempat dan hormatilah mereka. Inilah manfaat nan besar. Jangan membuat tempat ini penuh sesak dengan ini. Atas mu kedamaian, kasih dan rahmat Allah. Semoga Dia melindungiku dan kamu, dan mengasihiku dan kamu. Ku mulai senantiasa dengan asma Allah."

Ia terus berkata begini satu hari satu malam, "Celakalah kau, aku tak takut sesuatu pun, baik malaikat mahupun malakul maut. Duhai malakul maut!

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 78

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 78
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



 
Ada sepuluh sifat pada salik, pemawas-diri dan peraih tujuan ruhani.
  1. Tak bersumpah dengan-Nya, entah benar atau tidak, entah sengaja atau tidak. Sebab bila hal ini termapankan, dan lidah terbiasa dengannya, maka hal ini membawanya kepada suatu kedudukan, yang di dalamnya ia mampu menghentikan bersumpah dengan sengaja atau tidak. Nah, bila ia menjadi begini, Allah membukakan baginya pintu nur-Nya. Hatinya tahu manfaat ini, kedudukannya termuliakan, langkah dan kesabarannya terkuatkan. Maka, dipujilah dan dimuliakanlah ia di tengah-tengah tetangga dan sahabatnya, sehingga yang tahu dia, menghormatinya, dan yang melihatnya, takut kepadanya.

     
  2. Menghindar dari berbicara tak benar, entah serius atau bercanda. Sebab bila ia melakukan dan mengukuhkan hal ini pada dirinya sendiri, dan lidahnya terbiasa dengannya, maka Allah membuka dengannya hatinya, dan menjernihkan dengannya pengetahuannya, sehingga ia nampak tak tahu kepalsuan. Bila ia mendengarnya dari orang lain, ia memandangnya sebagai noda besar, dan termalukan olehnya. Bila ia memohon kepada Allah agar menjauhkannya, maka baginya pahala.

     
  3. Menjaga janji. Sungguh, hal ini demikian menguatkannya, sebab mengingkari janji termasuk kepalsuan. Maka terbukalah baginya pintu kemurahan, dan baginya kemuliaan, dan dicintailah ia oleh para shiddiq dan mulialah ia di hadapan Allah.

     
  4. Tak mengutuk sesuatu makhluk pun, tak merosak sesuatu pun, meski sekecil atom pun, dan bahkan yang lebih kecil darinya. Sebab hal ini termasuk tuntutan kebenaran dan kebaikan. Berlaku berdasarkan prinsip ini, memperolehi husnul khatimah di bawah naungan-Nya, Ia meninggikan kedudukannya, Ia melindunginya dari kehancuran, dan mengurniainya kasih sayang dan kedekatan dengan-Nya.

     
  5. Tak mendoakan keburukan bagi seorang pun, meski ia telah dizalimi. Lidah dan geraknya tak mendendam, tapi bersabar demi Allah. Hal ini membawanya kepada kedudukan mulia di dunia dan di akhirat. Ia menjadi dicintai dan disayangi oleh semua penerima kebenaran, baik dekat mahupun jauh.

     
  6. Tak berpihak kepada kemusyrikan, kekafiran dan kemunafikan mereka yang se-kiblat. Sifat ini menciptakan kesempurnaan dalam mengikuti Sunnah, dan amat jauh dari mencampuri pengetahuan Allah dan juga dari penyiksaan-Nya, dan amat dekat dengan redha dan kasih sayang-Nya. Inilah pintu kemuliaan dan keagungan dari Allah Yang Maha mulia, yang menganugerahkannya kepada hamba beriman-Nya sebagai balasan atas kasih sayangnya terhadap semua orang.

     
  7. Tak melihat sesuatu kedosaan, baik lahiriah mahupun batiniah. Mencegah anasir tubuhnya darinya, sebab hal ini merupakan suatu tindakan tercepat dalam membawa balasan bagi hati dan anasir tubuh di dunia dan pahala di akhirat. Semoga Allah menganugerahi kita daya untuk berlaku begini, dan menjauhkan kedirian (penting diri)  dari hati kita.

     
  8. Tak membebani seorang pun, entah dengan beban ringan atau berat. Tapi, melepaskan orang dari beban, entah diminta atau tidak. Hal ini menjadikan hamba-hamba Allah dan para saleh mulia, dan memacu orang untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar. Hal ini menciptakan kemuliaan penuh bagi hamba-hamba Allah dan para saleh, dan baginya segenap makhluk nampak sama. Maka Allah membuat hatinya tak butuh, yakin dan bertumpu pada Allah. Allah tak meninggikan seorang pun, bila masih terikat kedirian. Bagi orang semacam ini, semua makhluk memiliki hak yang sama, dan mesti diyakini bahawa inilah pintu kemuliaan bagi para mukmin dan para saleh, dan pintu terdekat kepada keikhlasan.

     
  9. Bersih dari segala harapan insan, dan tak merasa tergoda hatinya oleh milikan mereka. Sungguh, inilah kemuliaan besar, ketakbutuhan sejati, kerajaan besar, pujian agung, kepastian nan tegar kepasrahan sejati kepada-Nya. Inilah pintu segala pintu kepasrahan kepada-Nya, yang memampukan orang meraih ketakwaan kepada-Nya, dan pencipta ketertarikan sempurna dengan-Nya.

     
  10. Rendah hati. Dengan ini, sang hamba termuliakan dan sempurna di hadapan Allah (Maha agung Dia) dan insan. Inilah sifat penyempurna kepatuhan, dan dengannya sang hamba meraih kebajikan di kala suka dan duka, dan inilah kesalehan nan sempurna. Rendah hati membuat sang hamba merasa rendah daripada orang lain. Ia berkata, "Mungkin orang ini lebih baik dariku di hadapan Allah, dan lebih tinggi kedudukannya." Mengenai orang kecil, sang hamba berkata, "Orang ini tak menentang Allah, sedang aku menentang-Nya; sungguh ia lebih baik dariku." Mengenai orang tua, sang hamba berkata, "Orang ini telah mengabdi kepada-Nya sebelum aku." Mengenai orang alim, sang hamba berkata, "Orang ini telah dianugerahi yang tak ada padaku, ia telah memperoleh yang tak kuperoleh, ia mengetahui yang tak kuketahui, dan ia bertindak dengan pengetahuan." Mengenai orang bodoh, sang hamba berkata, "Orang ini tak mematuhi-Nya kerana tak tahu, dan aku tak mematuhi-Nya meski aku tahu, dan ku tak tahu akhir hayatku dan akhir hayatnya." Mengenai orang kafir, sang hamba berkata, "Entahlah, mungkin ia akan menjadi seorang Muslim, dan mungkin aku akan menjadi tak beriman."

     
Inilah pintu kasih sayang dan ketakutan.
Bila hamba Allah telah menjadi begini, maka Allah menyelamatkannya dari segala bencana, dan menjadikannya pilihan-Nya, dan menjadilah ia musuh Iblis, sang musuh Allah. Keadaan ini menciptakan pintu kasih. Dengan mencapainya, pintu kebanggaan tertutup dan tali kesombongan diri terputus, dan cita keunggulan diri, agamis, duniawi dan ruhani tercampakkan. Inilah hakikat pengabdian kepada-Nya; Tiada sebaik ini. Dengan meraih keadaan ini, lidah terhenti menyebut insan dunia dan yang sia-sia, dan karyanya tak sempurna tanpa hal ini; kebencian, kepongahan dan keberlebihan terhapus dari hatinya pada segala keadaan, lidahnya sama; orang baginya sama. Ia tak menegur seseorang dengan keburukan, sebab hal ini membencanai hamba-hamba Allah dan pengabdi-pengabdi-Nya, dan menghancurkan kezuhudan.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 77

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 77
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Bersamalah dengan Allah, seolah-olah tiada ciptaan. Bersamalah dengan ciptaan seolah-olah tiada diri. Bila bersama Allah, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, tanpa ciptaan, Dia tercapai, dan jauh dari selain-Nya. Bila bersama ciptaan, tanpa diri, keadilan tergapai, kebajikan terbantu, dan selamatlah dari kekerasan kehidupan. Tinggalkanlah segala suatu di luar pintu, bila memasuki pintu uzlah. Maka terlihat oleh mata batinmu temanmu dalam uzlah-mu, terasakan hal di luar ciptaan, lenyaplah diri, dan digantikan oleh perintah-Nya dan kedekatan-Nya. Maka ketak-tahuanmu menjadi ketahuanmu, kejauhanmu menjadi kedekatanmu, kediamanmu menjadi pengingatanmu akan-Nya, dan kebuasanmu menjadi kekaribanmu. Duhai! Tiada lagi tersisa di sana, selain Sang Pencipta dan ciptaan. Maka jika Sang Pencipta telah dipilih, ucapkanlah:
"Sesungguhnya mereka adalah musuh-musuhku, kecuali Tuhan semesta alam." (QS.26:77)
Barangsiapa telah merasakannya, ia telah mengetahuinya.

Ia ditanya, "Bagaimana kepahitan mengatasi kemanisan?" "Mesti berupaya menjauhkan kedirian. Duhai! Bila seorang mukmin berbuat kebajikan, maka haiwaninya tunduk kepada hati. Bila diri mencapai kesedaran hati, maka berubahlah hati menjadi suatu rahsia; rahsiapun berubah menjadi kemusnahan; kemusnahan berubah menjadi kemaujudan lain," jawabnya. "Kawan bisa mencapai lewat setiap pintu. Duhai! Peluruhan diri ialah mengingkari semua ciptaan, merubah sifat menjadi sifat malaikat; lenyap dari sifat malaikat dan kembali ke semula. Maka Tuhan menyiramimu sesuka-Nya, dan membajakmu sesuka-Nya. Bila menghendaki peringkat ini, pilihlah Islam, dan tunduklah kepada ketetapan-Nya, maka tergapailah ma'rifat, tersedarilah Ia, termaujudlah diri di dalam-Nya, dan menjadilah diri milik-Nya. Kesalehan ialah karya satu jam dan kebertarakan dua jam, sedang pengetahuan Allah adalah karya abadi," lanjutnya.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 76

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 76
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Punyailah kekayaan, harga diri, kemiskinan dan kerendah-hatian. Wajib bagimu berendah hati dan bersungguh-sungguh terhadap Sang Pencipta. Jangan salahkan Dia, kerana sarana duniawi. Jangan kau rosak hak saudaramu kerana kau dan dia adalah kawan. Berkawanlah selalu dengan para darwis, dengan rendah hati, sikap baik dan keterbukaan. Bunuhlah kedirian hingga tercapai kehidupan dalam ruhani. Yang terdekat dengan Allah ialah yang paling besar hati dalam berperilaku. Amal terbaik ialah menjaga diri dari selain-Nya. Nasihatilah selalu orang agar berteguh pada kebenaran dan kesabaran. Cukuplah bagimu bergaul dengan para darwis, dan mengabdi kepada para wali.

Darwis adalah orang yang acuh-tak-acuh terhadap selain Allah. Menyerang yang di bawahmu adalah pengecut. Berbuat serupa dengan yang di atasmu adalah memalukan, dan menyerang yang sejajar denganmu adalah tak baik. Menjalani kehidupan darwis dan sufi membutuhkan upaya serius. Semoga Allah mengurniai kita kekuatan. Duhai Wali! Dikau senantiasa mengingat Allah, sebab hal ini membawa kebaikan dan juga kewajibanmu untuk berpegang teguh pada perjanjian-Nya, sebab hal ini menjauhkan segala kemudharatan. Juga kewajibanmu untuk senantiasa menghadapi segala ketentuan-Nya, sebab hal-hal itu mesti terjadi.

Ketahuilah bahawa kau akan ditanya tentang gerak-gerimu. Selamatkanlah anasir tubuhmu dari ketak-bergunaan. Wajiblah bagimu mentaati Allah, Rasul-Nya dan mereka yang mesti ditaati. Fikirkanlah kaum Muslim, dan jangan berburuk niat kepada mereka, entah entah dalam hati, ucapan atau tindakan.

Doakanlah orang yang telah menzalimimu, dan takwalah kepada Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Wajib bagimu makan segala yang dihalalkan, dan bertanyalah, tentang yang tak kau ketahui, kepada orang yang memiliki ma'rifat. Berbaiklah senantiasa terhadap Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Bersamalah dengan-Nya. Bersamalah dengan selain-Nya, sepanjang dibutuhkan untuk bersama-Nya.

Bersedekahlah di kala pagi. Berdoalah di malam hari bagi Muslim yang meninggal. Ucapkanlah tujuh kali di pagi hari dan petang hari. Allahumma ajirna minan nar, yang maknanya, "Ya Allah! Lindungilah kami dari api neraka." Berdoalah selalu: A'udzubillahi-is-sma'i-il-'alim minasy-syaithan-ir-rajim, yang maknanya, "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui dari setan yang terkutuk."

Lalu agungkanlah Dia dengan ayat-ayat terakhir Surah Hasyr:
"Dialah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang. Dialah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha sejahtera, yang mengurniakan keamanan, Yang Maha memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha kuasa, yang memiliki segala keagungan. Maha suci Allah dari segala yang mereka persekutukan. Dialah Allah, Pencipta, Pewujud, Pembentuk, Pemilik nama-nama terbaik. Bertasbihlah kepada-Nya segala yang di langit dan di bumi. Dan Dialah yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana."

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 75

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 75
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Bertakwalah kepada Allah, taatilah Dia, milikilah kesucian hati, kendali diri, kebiasaan memberikan hal-hal bermanfaat. Jauhkanlah penderitaan dan kemiskinan, jagalah kesucian ruhaniwan, bergaullah dengan sesamamu, nasihatilah kaum muda dengan kebaikan, jauhilah permusuhan dengan sahabat, jauhilah pula mereka yang salik, dan bertolong-tolonganlah dalam hal-hal agamis dan duniawi. Hakikat kemiskinan agamis berupa ketakbolehan menyampaikan kebutuhan-kebutuhan kepada sesamanya. Hakikat kekayaan agamis berupa ketakbutuhan akan ciptaan, semisal diri. Tasawuf dicapai lewat kelaparan dan pematangan diri dari hal-hal yang disukai dan dihalalkan. Jangan berpintar-diri di hadapan seorang darwis, sebab unjuk pengetahuan membuatnya tak senang. Bersikap lembutlah terhadapnya, sebab kelembutan membuatnya senang. Tasawuf didasarkan pada delapan hal:

1. Kemurahan Nabi Ibrahim;
2. Kepasrahan Nabi Ishak;
3. Kesabaran Nabi Ya'kub;
4. Doa Nabi Zakaria;
5. Kemiskinan Nabi Yahya;
6. Berpakaian Wool seperti Nabi Musa;
7. Berlanglang Buana seperti Nabi Isa;
8. Kesahajaan Nabi Muhammad saw.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 74

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 74
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Masalah yang pertama yang patut diperhatikan oleh orang yang berakal ialah keadaan dan suasana dirinya sendiri, setelah itu barulah ia melihat atau memerhatikan seluruh makhluk dan ciptaan. Dari semua itu , dapatlah difahami dari mana sumber semua itu dan siapa yang menciptakan semua itu. Sebab, makhluk itu tanda Al-khaliq (yang mencipta), tanda yang menunjukkan kekuasaan Yang Maha Gagah dan menunjukkan bahawa yang menciptakan itu tentu Maha Bijaksana. Adanya makhluk menunjukkan adanya Al-Khalik, kerana keberadaan semua makhluk itu lantaran ada yang menciptakannya. Inilah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. dalam ulasannya tentang firman Allah :

"Dan Dia jadikan untukmu segala yang di langit dan yang di bumi".

Diriwayatkan bahawa ulasan ayat tersebut adalah sebagai berikut :

Dalam setiap sesuatu itu tersirat satu sifat di antara sifat-sifat Allah dan dalam setiap nama itu tersirat satu tanda untuk salah satu di antara nama-namaNya. Dengan demikian, pasti kamu ada dalam salah satu di antara nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Batin-Nya nampak melalui kuasa-Nya dan zahir-Nya nampak melalui kebijaksanan-Nya. Dia nampak di dalam sifat-sifat-Nya dan sifat-sifat-Nya terpelihara di dalam perbuatan-perbuatan-Nya . Dia menampakkan ilmu-Nya melalui iradat-Nya dan Dia menyatakan iradat-Nya didalam gerak-Nya. Dia menyembunyikan kemahiran dan kebijaksanaan-Nya, dan menyatakan kemahiran dan kebijaksanaan-Nya melalui iradat-Nya. Maka, Dia tersembunyi di dalam ghaib-Nya dan tampak di dalam kebijaksanaan dan kekuasaanNya.

Firman Allah :
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS, 42:11)

Sesungguhnya banyak rahsia-rahsia ilmu kerohanian di dalam kenyataan ini yang tidak diketahui oleh orang-orang yang tidak memiliki sinar kerohanian di dalam hatinya. Ibnu Abbas mendapatkan ilmu itu dikeranakan doa Nabi Muhammad saw, untuknya. Nabi mendoakannya, " Ya Allah, berilah ia pengetahuan tentang agama dan ajarlah ia pengertian tentang Al-Quran".

Semoga kita mendapatkan limpahan kurniaNya dan dimasukkan ke dalam orang-orang yang mendapatkan rahmatNya di hari kebangkitan kelak.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 73

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 73
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Kadang Allah memberitahu para wali-Nya, tentang kesalahan-kesalahan dan kepalsuan orang, dan pernyataan-pernyataan palsunya tentang tindakan, kata, fikiran dan tujuannya. Para waliullah dibuat amat cemburu akan Tuhannya, Nabi-Nya dan agama-Nya. Kemarahan batiniah dan kemarahan lahiriah terpacu oleh fikirannya. Bagaimana bisa senang, bila mempunyai penyakit dalam dan luar. Bagaimana bisa beriman akan keEsaan Tuhan, bila berkencederungan kesyirikan manusia dari-Nya dan bila masih berpihak kepada musuh, si setan yang terkutuk, dan si munafik yang kelak dicampakkan ke dasar neraka dan tinggal untuk selamanya? Menyebut kesalahan-kesalahan seperti itu, tindakan-tindakan kejinya dan pengakuannya sebagai shiddiq, keberasingannya dengan mereka yang telah meluruhkan diri ke dalam takdir, terluncur dari lidah sang wali.

Kadang dikeranakan kecemburuan akan keagungan Tuhan Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Kadang kerana menolak orang palsu seperti itu, dan sebagai teguran baginya; kadang kerana Kemaha kuasaan kehendak dan kemurkaannya terhadap orang palsu yang mendustakan para wali. Para wali mengutuk pengumpatan terhadap orang semacam itu, dan "bolehkah para wali mengumpat seseorang? Bisakah mereka memerhatikan seseorang, tak hadir atau hadir, dan hal-hal yang asing bagi orang-orang yang berkedudukan?" Pengutukan semacam itu, dari mereka, tak melebihi firman Allah:
"Dosa keduanya lebih besar daripada manfaat keduanya" (QS. 2:219)

Wajib baginya berdiam diri dalam keadaan-keadaan semacam itu, tunduk dan berupaya mendapatkan keabsahan-Nya, tak berkeberatan terhadap kehendak-Nya dan wali-Nya yang mencerca pernyataan-pernyataan si palsu. Jika ia bersikap demikian, maka ia mampu mencabut akar-akar kekejian dari dirinya dan dipandang sebagai kembalinya dari kejahilian dan kebiadabannya. Hal itu bagai serangan atas nama sang wali, dan juga menguntungkan si pongah yang berada di tepi jurang kehancuran, kerana kepongahan dan ketakpatuhannya. Dan Allah menunjuki yang dikehendaki-Nya kepada jalan kebenaran.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 72

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 72
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Ada beberapa macam orang agama yang pergi ke pasar-pasar. Ada yang terkesima, ketika melihat aneka barang di sana, dan hal ini menyebabkan kehancuran dan pencampakan mereka akan agama mereka, dan membuat mereka mengikuti hawa nafsu mereka jika Allah tak memelihara mereka dengan kasih sayang, perlindungan dan penganugerahan kesabaran oleh-Nya untuk melawan godaan-godaan ini; dengan inilah mereka tetap selamat.

Ada yang, ketika melihat hal-hal ini dan hampir terhancurkan, kembali kepada nalar agama mereka, mengendalikan diri dengan sekuat daya dan menelan pahitnya mencampakkan hal-hal itu. Mereka ini seperti perajurit-perajurit gagah berani di jalan agama yang ditolong oleh Allah untuk mengendalikan diri. Allah menganugerahi mereka kelimpahan pahala dan kehidupan ukhrawi.
Nabi saw. bersabda:
"Tujuh puluh tindak kebajikan dicatat untuk seorang mukmin yang mencampakkan dorong hawa nafsunya ketika ia dikuasai olehnya atau ia menguasainya"

"Dan ada di antara mereka yang mendapatkan kenikmatan-kenimatan ini dan kurnia serta rahmat Allah dalam bentuk kelimpahan kekayaan duniawi dan bersyukur kepada Allah Swt atas hal-hal itu"

Namun mereka tetap tak memerhatikan kenikmatan-kenikmatan ini: mereka buta terhadap segala suatu selain Allah Swt; maka mereka tak melihat sesuatu pun selain-Nya dan tuli terhadap sesuatu pun selain-Nya. Bila kau lihat orang-orang semacam ini memasuki pasar, mereka akan berkata: "Kami tak melihat sesuatu pun". Ya mereka melihat hal-hal dengan mata mereka, bukan dengan mata hati. Mereka melihat semua itu, tapi bukan dengan mata nafsu. Pandangan itu adalah pandangan wujud, bukan pandangan hakikat. Itu adalah pandangan lahiriah, bukan pandangan ruhaniah. Mereka melihat secara lahiriah apa yang ada di pasar, tapi hati mereka melihat Tuhan --kadang keagungan-Nya dan kadang Kemurahan-Nya.

Ada yang, ketika mereka memasuki pasar, hati mereka penuh dengan kasih sayang kepada orang di dalamnya kerana Allah Swt. Rasa kasih sayang ini membuat mereka bertafakkur dalam melihat hal-hal milik orang-orang ini dan yang di hadapan mereka. Orang-orang semacam ini senantiasa, sejak masuk hingga keluar dari pasar, berdoa dan memohon perlindungan dari Allah serta menjadi perantara bagi orang-orang di pasar dengan sikap penuh kasih sayang. Hati-hati mereka berupaya menguntungkan mereka dan mencegah kerugian mereka. Lidah-lidah mereka diberikan senantiasa memuji Allah atas semua yang telah mereka berikan kepada mereka dari rahmat dan kurnia-Nya. Orang-orang semacam ini disebut pengawal-pengawal kota dan abdi-abdi Allah. Bila kau mahu kau dapat menyebut mereka orang berilmu, badal, penyayang dan penahan yang tersembunyi dan yang tampak, yang dicintai-Nya dan khalifah-Nya di bumi bagi hamba-hamba-Nya, duta-Nya dan pelaksana kebajikan-Nya. Orang-orang semacam ini, dapat dikatakan, sebagai batu filosof. Redha dan rahmat Allah ada pada orang-orang semacam ini dan pada orang yang telah menghadapkan wajahnya kepada Allah dan yang mencapai puncak singkapan ruhani.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 71

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 71
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Kau tentu berada dalam salah satu dari kedua hal ini: pengupaya atau yang diupayakan. Bila kau seorang pengupaya, maka kau terbebani dan penanggung beban yang memikul segala yang sulit dan berat. Hal ini dikeranakan kau adalah seorang pengupaya. Seorang pengupaya mesti bekerja keras dan disalahkan, hingga ia memperolehi yang dikehendakinya. Tak patut bagimu mengelak dari kesulitan-kesulitan yang merundungmu sampai deritamu sirna. Maka kau akan diselamatkan dari segala macam suara, noda, kekejian, kehinaan, rasa sakit, derita dan kertergantungan kepada orang. Maka kau akan dimasukkan ke dalam kelompok orang yang dicintai Allah.

Namun, bila kau adalah yang diupayakan, maka jangan salahkan Allah jika Dia menimpakan musibah atasmu. Juga, jangan kau ragukan kedudukanmu di hadapan-Nya, sebab Dia telah mengujimu agar kau meraih kedudukan tinggi. Dia hendak meningkatkan kedudukanmu ke tingkat wali dan badal. Sukakah kau bila kedudukanmu berada di bawah kedudukan mereka, atau bila pakaian kemuliaan, nur dan rahmatmu tak seperti pakaian kemuliaan, nur dan rahmat mereka? Meski kau puas dengan kedudukan rendahmu, tapi Allah SWT tak menyukainya. Dalam hal ini Dia berfirman:
"Dan Allah mengetahui, sedang kamu tak mengetahui." (QS.2:232)

Dia telah memilihkan untukmu sesuatu yang lebih tinggi, lebih cerah, lebih baik dan lebih mulia, sedang kau menampiknya,

Jika kau berkata: bagaimana benar pengabdi sempurna mesti diuji, sedang kau berkata bahawa ujian dimaksudkan bagi sang pencinta, padahal pilihan Allah adalah orang yang dicintai-Nya? Pertama kami sebutkan aturannya, kemudian pengecualian yang mungkin. Tiada dua pendapat bahawa Nabi saw. adalah yang paling dicintai dan yang paling banyak diuji. Nabi saw. bersabda:
"Aku telah demikian takut kerana Allah, tiada seorang pun yang terancam sepertiku dan aku telah demikian menderita kerana Allah, tiada seorang pun yang menderita sepertiku. Telah datang padaku tiga puluh hari dan malam yang di dalamnya kami tak punya makanan sebanyak yang diapit di bawah ketiak Bilal."

"Sesungguhnya kami, para nabi, adalah yang paling banyak diuji; kemudian mereka yang kedudukannya lebih rendah dan seterusnya."

"Aku adalah yang paling tahu tentang Allah dan yang paling takut kepada-Nya di antara kamu semua."

Nah, bagaimana bisa sang tercinta diuji dan takut, padahal ia adalah orang pilihan dan pengabdi sempurna? Hal ini dikeranakan Dia hendak membuat mereka meraih, sebagaimana telah kami tunjukkan, kedudukan-kedudukan kehidupan syurgawi takkan meningkat kecuali melalui amal-amal saleh di kehidupan duniawi ini. Kehidupan duniawi merupakan tanah garapan kehidupan ukhrawi, dan amal-amal saleh para Nabi dan wali, setelah menunaikan perintah-perintah dan menghindari larangan-larangan, berada dalam kesabaran dan keredhaan di tengah-tengah cubaan. Kemudian cubaan dijauhkan dari mereka dan mereka dianugerahi rahmat-rahmat Allah, kurnia-Nya dan kasih-sayang-Nya sampai mereka menghadap Tuhan mereka di akhirat yang abadi.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 70

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 70
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Bagaimana baik bagimu berbangga akan kebajikanmu, padahal kau mengatakan bahawa hal ini berasal dari kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah, melalui pertolongan, daya, kehendak dan kurnia-kurnia-Nya? Begitu pula dengan pencampakan dosa, hal ini dikeranakan oleh perlindungan dan pertolongan dari-Nya. Bagaimana kau bisa tak bersyukur atas hal itu dan tak mengakui semua rahmat ini yang berasal dari-Nya? Kenapa semangat ketakpatuhan dan ketakacuhan ini, iaitu perasaan banggamu akan keberanian yang adalah milik orang lain? Bila kau tak dapat membunuh musuhmu tanpa bantuan beberapa orang yang gagah-berani, yang menyerang musuhmu, sedang kau hanya menimbrunginya, maka kau akan terbunuh bukannya musuhmu; juga kau takkan bermurah bila tak ada yang patut diberi kemurahan - jika demikian, kenapa kau bangga akan kebajikanmu?

Jalan terbaik bagimu ialah bersyukur dan memuji sang penolong, senantiasa memuji-Nya, dan menisbahkan segala pencapaianmu kepada-Nya dalam segala keadaan kehidupanmu. Jika tidak, hal itu akan menjadi keburukan dan dosa. Bila demikian, maka kau harus menisbahkan keburukan dan dosa kepada dirimu sendiri. Kau harus menisbahkan kepada dirimu sendiri kezaliman, perilaku buruk dan kesalahan untuk hal-hal ini daripada orang lain, sebab dirimu adalah tempat keburukan dan ia memerintahkan segala keburukan dan ketak-bergunaan. Jika Dia, Yang Maha perkasa lagi Maha agung, adalah pencipta kebajikan dan upayamu, maka kau adalah pembuat upaya, sedang Dia adalah Penciptanya. Inilah yang dimaksudkan oleh perkataan orang-orang yang memperolehi ma'rifah: "Tindakan akan datang, sedang kau tak dapat mengelakannya."

Nabi saw. bersabda:
"Berbuat baiklah, mendekatlah kepada Allah, dan luruskanlah dirimu, sebab bagi semua orang ada kemudahan."


Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 69

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 69
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Bagaimana baik bagimu berbangga akan kebajikanmu, padahal kau mengatakan bahawa hal ini berasal dari kekuatan yang dianugerahkan oleh Allah, melalui pertolongan, daya, kehendak dan kurnia-kurnia-Nya? Begitu pula dengan pencampakan dosa, hal ini dikeranakan oleh perlindungan dan pertolongan dari-Nya. Bagaimana kau bisa tak bersyukur atas hal itu dan tak mengakui semua rahmat ini yang berasal dari-Nya? Kenapa semangat ketakpatuhan dan ketakacuhan ini, iaitu perasaan banggamu akan keberanian yang adalah milik orang lain? Bila kau tak dapat membunuh musuhmu tanpa bantuan beberapa orang yang gagah-berani, yang menyerang musuhmu, sedang kau hanya menimbrunginya, maka kau akan terbunuh bukannya musuhmu; juga kau takkan bermurah bila tak ada yang patut diberi kemurahan - jika demikian, kenapa kau bangga akan kebajikanmu?

Jalan terbaik bagimu ialah bersyukur dan memuji sang penolong, senantiasa memuji-Nya, dan menisbahkan segala pencapaianmu kepada-Nya dalam segala keadaan kehidupanmu. Jika tidak, hal itu akan menjadi keburukan dan dosa. Bila demikian, maka kau harus menisbahkan keburukan dan dosa kepada dirimu sendiri. Kau harus menisbahkan kepada dirimu sendiri kezaliman, perilaku buruk dan kesalahan untuk hal-hal ini daripada orang lain, sebab dirimu adalah tempat keburukan dan ia memerintahkan segala keburukan dan ketakbergunaan. Jika Dia, Yang Maha perkasa lagi Maha agung, adalah pencipta kebajikan dan upayamu, maka kau adalah pembuat upaya, sedang Dia adalah Penciptanya. Inilah yang dimaksudkan oleh perkataan orang-orang yang memperolehi ma'rifah: "Tindakan akan datang, sedang kau tak dapat mengelakkannya."

Nabi saw. bersabda:
"Berbuat baiklah, mendekatlah kepada Allah, dan luruskanlah dirimu, sebab bagi semua orang ada kemudahan."

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 68

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]



Risalah 68
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Bila Allah mengabulkan dia hamba-Nya dan memberinya yang dimintanya, maksud-Nya sendiri, dengan demikian, tak terpatahkan dan telah diketahui-Nya sebelumnya. Tapi, doa itu sesuai dengan kehendak Allah dan terjadi pada saat yang telah ditentukan-Nya. Nah, diterimanya dia dan dipenuhinya kebutuhan, terjadi pada saat yang telah ditentukan, dan sesuai dengan rencana-Nya sebelumnya pada awal masa, dan yang bakal dipenuhi pada saat yang telah ditentukan. Inilah yang telah dikatakan oleh seorang alim dalam menerangkan firman-Nya:
"Setiap saat, Dia dalam kesibukan." (QS.55:29)

Ini bererti bahawa Allah mengurniakan pada saat-saat yang telah ditentukan. Dengan demikian, Allah tak memberi seseorang sesuatu di dunia ini kerana semata-mata, begitu pula Ia tak menjauhkan sesuatu darinya hanya kerana doanya, dan dikatakan, Nabi saw bersabda bahawa takdir tak bisa dihindari kecuali dengan doa tertentu. Juga tak seorang pun masuk syurga melalui kasih-sayang Allah, dan hamba-hamba Allah akan diberi kedudukan di syurga sesuai dengan amal-amal mereka. Aisyah r.a berkata bahawa ia bertanya kepada Nabi saw: "Akankah seseorang masuk syurga hanya kerana amal-amalnya? Tidak, tetapi dengan kasih-sayang Allah," jawab Nabi, sambil meletakkan tangannya di atas kepalanya.

Ia melakukan hal ini untuk menunjukkan bahawa tak seorang pun berhak menentang Allah. Juga Ia tak wajib memenuhi janji. Tapi Ia berbuat sekehendak-Nya, menyiksa yang dikehendaki-Nya, mengampuni yang dikehendaki-Nya, mengasihi yang dikehendaki-Nya dan mengurniakan nikmat bagi yang dikehendaki-Nya, dan Ia Maha kuasa atas segalanya. Ia tak ditanya tentang yang dilakukan-Nya, sedang hamba-hamba-Nya akan ditanya. Ia memberikan rezeki kepada yang dikehendaki-Nya, dengan kurnia dan kasih-Nya, dan menahan kurnia-kurnia-Nya dari yang dikehendaki-Nya. Begitulah adanya, kerana ciptaan, sejak dari arasy-Nya hingga dasar bumi di lapisan ketujuh bawah langit ini, adalah milik-Nya dan ciptaan-Nya. Pencipta mereka adalah Allah, dan pemilik mereka adalah Allah, dan Allah berfirman:
"Adakah pencipta selain-Nya?" (QS.35:3). "Adakah Tuhan selain Allah?" (QS.27:63). "Dan tahukah kau, adakah yang menyamai-Nya?" (QS.29:65)

"Katakanlah: "Ya Allah! Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa atas segala suatu." (QS.3:26)

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 67

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]



Risalah 67
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Bila kau bertanya melawan dan berhasil mengatasi diri, maka Allah membangkitkannya kembali, dan ia menuntut darimu pemuasan keinginan, baik yang diharamkan mahupun yang dihalalkan, hingga kau berupaya lagi mengatasi diri, sampai pahala tertulis bagimu begitu kau berupaya kembali. Inilah makna sabda Nabi saw:
"Kita telah kembali dari jihad kecil, dan menuju jihad besar."

Ia berkata bahawa kembali berupaya mengatasi diri senantiasa terjadi. Dan inilah makna firman Allah:
"Mengabdilah kepada Tuhanmu, hingga kepastian (kematian) datang kepadamu." (QS.15:99)

Allah telah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengabdi kepada-Nya. Hal ini bertentangan dengan diri. Sebab semua pengabdian ditolak oleh diri yang menginginkan sebaliknya, hingga datang kepastian (kematian). Bila ditanya: "Bagaimana mungkin diri Nabi menolak pengabdian, padahal ia tak punya kedirian?" Allah berfirman: "Ia tak berbicara dengan kehendaknya sendiri, tapi dengan wahyu." (QS.53:84)

Ia mengalamatkan kepada nabi-Nya kata-kata ini, untuk mengukuhkan hal ini, dan berlaku pula bagi pengikut-pengikutnya, hingga hari Kiamat. Dia menganugerahi nabi-Nya daya mengatasi diri, hingga hal ini tak merugikannya, tak pula mendorongnya berupaya mengatasi diri. Inilah pembeza antara dia dan pengikut-pengikutnya. Bila seorang mukmin teguh dalam upaya spiritual, hingga datang kematian, dan menemui Tuhannya, dengan pedang terhunus berlumuran darah kedirian, maka Ia memberinya Syurga yang dijaminkan-Nya baginya, dengan firman-Nya:
"Bagi yang takwa kepada Tuhannya, dan mencegah diri dari hawa nafsunya, maka Syurgalah tempat tinggalnya." (QS.79:41)

Nah, bila Dia telah memasukkannya ke dalam syurga, maka Ia menjadikan syurga itu tempat tinggal, tempat beristirehat dan tempat kembalinya, yang membuatnya aman dari pemalingan kepada duniawi; dan Ia senantiasa melimpahkan baginya, dari hari ke hari dan dari jam ke jam, rezeki dan akan mengurniainya segala macam pakaian dan hiasan yang abadi, sebagaimana Ia memperbaharui, di dalam dunia ini setiap hari setiap jam dan setiap detik, perjuangan melawan kedirian.

Sedang orang kafir, orang munafik dan pendosa, bila mereka telah berhenti berjuang melawan kedirian mereka di dunia ini, kemudian mengikuti, bersekutu dengan setan dan berbaur dengan aneka macam kekafiran, kemusyrikan dan hal-hal seperti itu sampai kematian datang kepada mereka, sebelum mereka menjalankan Islam dan bertaubat, maka Allah memasukkan mereka ke dalam neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya:
"Peliharalah dirimu dari neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." (QS.2:24)

Setelah Dia memasukkan mereka ke dalamnya dan menjadikannya tempat kembali dan tempat berteduh mereka, maka neraka itu membakar kulit dan daging mereka, dan Ia mengganti kulit dan daging mereka dengan yang baru, sesuai dengan firman-Nya:
"Setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit mereka dengan kulit yang lain." (QS.4:56)

Ia, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, senantiasa memperlakukan mereka demikian, disebabkan oleh penyekutuan mereka dengan kedirian mereka sendiri, di dunia ini, dalam berbuat dosa. Penghuni-penghuni neraka senantiasa berganti kulit dan daging, agar mereka tersiksa dan kesakitan. Sedang penghuni syurga senantiasa dilimpahi rezeki, agar mereka senantiasa bersyukur. Hal ini dikeranakan perjuangan mereka melawan kedirian mereka sendiri demi menyesuaikannya dengan kehendak Allah dalam kehidupan di dunia ini, dan inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi saw: "Dunia ini adalah tanah garapan bagi akhirat."

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 66

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz
Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 66
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Jangan berkata: "Aku tak mahu memohon sesuatu kepada Allah, sebab bila yang kumohon itu telah ditentukan bagiku, tentu akan datang kepadaku, entah diminta atau tidak. Bila hal itu bukan bahagianku, Dia takkan memberikannya kepadaku, walau kuminta." Jangan. Mintalah kepada-Nya segala yang kau inginkan, asalkan yang kau minta itu tak terlarang dan tak merosak, sebab Allah telah memerintahkan kita untuk memohon kepada-Nya. Dia berfirman:
"Mintalah kepada-Ku, nescaya akan Kukabulkan permintaanmu." (QS.40:60)

"Mintalah Kepada-Nya kurnia-Nya." (QS.4:32)

Nabi bersabda:
"Mintalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahawa doamu diterima."
"Berdoalah kepada Allah dengan kedua tapak tanganmu."

Masih banyak sabda Nabi seperti ini. Jangan berkata: "Sesungguhnya aku telah memohon kepada-Nya, tapi Ia tak mengabulkannya, maka kutakkan lagi memohon sesuatu pun kepada-Nya." Berdoalah selalu kepada-Nya. Jika sesuatu telah ditentukan bagimu, Dia anugerahkan sesuatu itu kepadamu, setelah kau minta. Maka hal itu akan menambah keimananmu akan keesaan-Nya, akan menolongmu menjauh dari meminta kepada orang, kepada ciptaan, dan dari berpaling kepada-Nya dalam segala keadaan, dan menolongmu meyakini bahawa segala kebutuhanmu terpenuhi oleh-Nya.

Jika sesuatu tak ditentukan bagimu, Dia mencukupimu dan membuatmu redha kepada-Nya, meski kau miskin dan sakit, Dia membuatmu senang dengan kesulitan yang menimpamu itu. Bila berhutang, Dia buat hati si pemberi hutang tersebut lembut terhadapmu, hingga kau lunasi hutang itu. Bila permohonanmu tak dikabulkan di dunia ini, Dia akan memberimu di akhirat.

Dia takkan mengecewakan pendoa kepada-Nya di dunia ini dan di akhirat. Nabi bersabda bahawa si mukmin akan melihat pada catatan amalnya, pada Hari Pengadilan, amal-amal yang tak dilakukannya. "Tahukah kamu amal-amal itu?" "Aku tak tahu," jawab si mukmin. Maka dikatakan kepadanya: "Sesungguhnya, amal-amal itu adalah balasan bagi permohonanmu di dunia, sebab dalam berdoa kepada Allah Maha kuasa lagi Maha agung, kau senantiasa mengingat-Nya, mengEsakan-Nya, menempatkan sesuatu pada tempatnya, berbuat kebajikan kepada sesamamu, tak menisbahkan daya kepada diri sendiri dan tak pongah. Semua ini menjadi amal-amal saleh, untuk itulah ada balasannya dari Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung."

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 65

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz


Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 65
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Kenapa marah kepada Tuhan, kerana doa-doa belum diterima? Kau bilang bahawa tak boleh meminta kepada orang, dan diperintahkan meminta kepada-Nya, tapi permohonanmu kepada-Nya tak dikabulkan-Nya. Jawabku: Bebas atau terikatkah engkau? Jika kau berkata bahawa kau seorang bebas, bererti kau tidak beriman. Jika kau bilang bahawa kau seorang budak, kubertanya, salahkah Tuhan menunda penerimaan doamu. Ragukah kau akan kearifan dan kasih-Nya kepadamu dan kepada seluruh ciptaan, dan akan pengetahuan-Nya tentang segala hal mereka? Kau salahkankah Dia? Jika kau tak menyalahkan-Nya dan menerima kearifan-Nya dalam menangguhkan penerimaan doamu, maka wajib bagimu bersyukur kepada-Nya, sebab Ia telah memilihkan yang terbaik bagimu. Jika kau salahkan Dia, bererti kau tak beriman, sebab kau menisbahkan kepada-Nya ketak-adilan, dan mustahil Dia tak adil. Ingat, Dia adalah Pemilikmu, Pemilik segalanya. Sang pemilik berkuasa penuh atas milik-Nya. Maka "Ketak-adilan" tak layak bagi-Nya. Sebab ketak-adilan ialah keikut-campuran dalam milikan orang lain, tanpa seizin pemiliknya.

Nah, jangan kesal terhadap-Nya, kerana kehendak-Nya yang mewujud melaluimu meski tak kau sukai dan, secara lahiriah, merugikanmu, maka wajib bagimu bersyukur, bersabar, redha kepada-Nya, dan mencampakkan kekesalan dan ketak-patuhan benak dan kedirianmu - hal-hal yang akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Wajib pula bagimu senantiasa berdoa, berbaik sangka terhadap-Nya, menanti saat-saat yang baik, yakin akan janji-Nya, menunjukkan sikap baik terhadap-Nya, bersesuaian dengan perintah-Nya, senantiasa mengesakan-Nya, segera melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauh dari melakukan hal-hal yang dilarang-Nya.

Dan, salahkan dirimu sendiri, yang berbuat kekejian dan ketak-patuhan terhadap-Nya, hal ini lebih baik. Nisbahkanlah ketak-adilan kepada dirimu sendiri, hal ini lebih layak. Waspadalah akan keserasian dengan diri, sebab hal ini adalah musuh Allah dan kawan musuhmu, yakni si Iblis nan terlaknat.

Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah. Waspadalah, waspadalah. Kutuklah dirimu sendiri, nisbahkanlah ketak-adilan kepadanya, bacakanlah kepadanya firman Allah:
"Adakah Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur lagi beriman?" (QS.4:147)

"Ini dikeranakan perbuatan-perbuatanmu sebelumnya, sesungguhnya Allah adil terhadap hamba-hamba-Nya." (QS.3:181)

"Sesungguhnya Allah tak menzalimi, tapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri." (QS.10:44)

Bacakanlah bagi dirimu kata-kata ini, ayat-ayat lain Al-Quran dan sabda-sabda Nabi. Berperanglah melawan dirimu demi Allah. Jadilah komandan pasukan-Nya, sebab kedirianmu adalah musuh terbesar di antara musuh-musuh terbesar Allah.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 63 & 64

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz


Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]


Risalah 63
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Kuberkata dalam mimpi: "Wahai yang menyekutukan Tuhan di dalam benak dengan diri sendiri, dalam sikap lahiriah dengan ciptaan-Nya, dan dalam tindakan dengan kedirian!" Bertanyalah seorang di sampingku, "Pernyataan apakah ini?" "Itulah suatu pengetahuan ruhani," jawabku.


Risalah 64
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Suatu hari, suatu masalah mengusik benakku Jiwaku tertekan. Kuberkata: "Aku menginginkan kematian, yang di dalamnya tiada kehidupan, dan kehidupan, yang di dalamnya tiada kematian."

Aku ditanya, kematian apakah yang di dalamnya tiada kehidupan, dan kehidupan apakah yang didalamnya tiada kematian yang tiada memiliki kehidupan ialah kematianku dari sesamaku, sehingga aku tak melihat manfaat dan mudharat mereka, dan kematianku dari diriku, dari keinginanku, dari tujuanku di dalam kehidupan duniawi dan kehidupan setelah matiku, sehingga aku tak berada di dalam kehidupan setelah matiku, sehingga aku tak berada di dalam ini semua. Kehidupan yang tak memiliki kematian ialah kehidupanku dengan kehendak-Nya, sehingga aku tak maujud di dalamnya, dan kematianku di dalamnya ialah kemaujudanku dengan-Nya.

Kerana aku telah mengerti, maka hal ini telah menjadi tujuan paling muliaku.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 62

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz


Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 62
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Sungguh aneh, kenapa sering berkata, si fulan dekat kepada Allah, si fulan teranugerahi, si fulan menjadi kaya, si fulan menjadi miskin, si fulan senantiasa sihat, si fulan sakit, si fulan mulia, si fulan hina, si fulan terpuji, si fulan tercela, si fulan terpercaya dan si fulan tak bisa dipercaya! Tidakkah kau tahu, bahawa Dia Esa, yang mencintai keesaan, dan mencintai yang hanya mencintai-Nya? Jika Dia mendekatkanmu kepada-Nya melalui selain Diri-Nya, cintamu kepada-Nya menjadi tak benar dan sia-sia. Akibatnya, cinta kepada-Nya melalui di dalam hatimu menjadi rusak. Maka Dia menahan tangan orang lain dari membantumu, dan lidah mereka dari memujimu, dan kaki mereka dari mengunjungimu, agar mereka tak memalingkanmu dari-Nya. Sudah dengarkah kamu sabda Nabi Suci saw?

Hati mencintai yang berbuat kebaikan, dan benci kepada yang berbuat keburukan.

Maka Dia tahan orang dari berbuat kebaikan kepadamu, hingga kau sedari keesaan-Nya, mencintai-Nya dan sepenuhnya menjadi milik-Nya, sehingga kau tak melihat kebaikan, kecuali yang berasal dari-Nya, kau lepas dari ciptaan, kedirian dan dari segala selain Allah.

Melimpahlah kurnia dan pujian kepadamu, hingga kau termuliakan di dunia dan di akhirat.

Janganlah berburuk-laku: Lihatlah yang melihatmu, perhatikan yang memerhatikanmu, cintailah yang mencintaimu, hulurkanlah tanganmu kepada yang menjagamu dari kejatuhan, yang mengeluarkanmu dari kegelapan kejahilanmu, yang menyelamatkanmu dari kehancuran, yang mensucikanmu dari noda dan kekejian, yang akan melepaskanmu dari kebusukan iri, dari kedirian, dan teman-teman sesatmu, dari penggalang jalan menuju Allah, dan dari segala yang hina dan mempesona.

Berapa lama kau 'kan jijik dengan haiwanimu, ciptaan, ketakpatuhan, dunia, kehidupan setelah mati, dan segala selain Allah; Kenapa kau begitu jauh dari sang Pencipta segalanya, yang telah memaujudkan segalanya, yang awal dan yang akhir, tempat, kembali, yang milik-Nyalah hati dan kesenangan jiwa, yang memberi kurnia?

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 60 & 61

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz

Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 60
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Awal kehidupan ruhani berupa keterlepasan dari kedirian, keberadaan dalam arena hukum, dan kembali kepada kedirian setelah mampu menjaga hukum. Lepaslah dari kedirian, semisal makan, minum, berpakaian, menikah, tempat-tinggal, dan kecenderungan-kecenderungan dan masuklah ke dalam hukum. Ikutilah Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
"Ambillah yang dibawa nabi kepadamu, dan hindarilah yang dilarangnya."
"Katakanlah: jika kau mencintai Allah, ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu." (QS.3:31)

Bila telah terlepas dari kedirian dan ketakpatuhan, baik lahiriah mahupun batiniah, maka yang ada padamu hanyalah keesaan Allah, dan yang ada pada lahiriahmu hanyalah kepatuhan dan pengabdian kepada Allah. Hal ini kemudian menjadi sikap, pakaian, gerak dan diammu, di kala malam, siang, dalam perjalanan, di rumah, dalam kesulitan, dalam kemudahan, dan dalam segala keadaan. Maka dibawalah kau ke lembah-Nya, dan dikendalikan oleh-Nya.

Berlepaslah dari segala upaya, perjuangan dan dayamu, maka dibawa kepadamu yang pena tak kuasa menuliskannya, dan kamu menjadi begini, terlindung dan terselamatkan di tengah-tengahnya. Hukum terlestarikan padanya, kesesuaian dengan kehendak-Nya diperoleh di dalamnya, dan hukum takkan dilanggar. Allah berfirman:
"Sesungguhnya, telah Kami turunkan pengingat, dan sesungguhnya Kami yang menjaga." (QS.15:90)
"Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba pilihan Kami." (QS.12:24)

Maka perlindungan Allah menyertaimu, hingga kau menghadap-Nya dengan kasih-Nya.


Risalah 61
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Setiap mukmin ragu dan waspada di kala menerima sesuatu, hingga hukum membolehkannya, sebagaimana Nabi Suci bersabda:
"Sesungguhnya, si mukmin itu waspada, sedang si munafik menyambar (segala yang datang kepadanya)."
"Seorang mukmin ragu-ragu, campakkanlah segala penyebab keragu-raguan, dan ambillah segala yang tak menimbulkan keragu-raguan."

Seorang mukmin ragu-ragu terhadap segala makanan, minuman, pakaian, perkahwinan dan segala hal, sebelum dikukuhkan oleh hukum, bila ia saleh; dikukuhkan oleh perintah batin, bila ia seorang wali; dikukuhkan oleh ma'rifat, bila ia seorang badal dan ghauts; dikukuhkan oleh tindakan-Nya, bila ia dalam keadaan fana.

Lalu datanglah keadaan, yang di dalamnya didapat segala yang datang kepada orang, perintah batin atau ma'rifat; tapi bila hal-hal ini bertentangan dengan keadaan sebelumnya, yang di dalamnya berkuasa keragu-raguan dan pemudahan, sedang pada keadaan kedua, berkuasa penerimaan dan penggunaan hal-hal yang dibutuhkan.

Datanglah keadaan ketiga, yang di dalamnya penerimaan dan penggunaan hal-hal yang diperlukan menjadi rahmat. Inilah hakikat ka-fana-an. Pada keadaan ini, sang mukmin menjadi kebal terhadap segala bencana dan pelanggaran hukum, dan segala kejahatan terjauhkan darinya, sebagaimana Allah yang Maha mulia berfirman: "Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba pilihan Kami." (QS.12:24)

Maka sang hamba menjadi terlindung dari segala pelanggaran hukum. Segala yang datang kepadanya telah terbersihkan dari segala kesulitan di dunia dan akhirat, dan demikian selaras dengan kehendak dan redha-Nya. Tiada keadaan melebihi ini. Inilah tujuannya. Inilah yang dimaksudkan bagi kepala-kepala para wali besar, yang tersucikan, yang memiliki hikmah - orang yang telah mencapai ambang pintu kenabian.


Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 59

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz

Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 59
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Jika kau ditimpa musibah, berupayalah bersabar - ini merupakan hal yang rendah - dan bersabarlah, ini merupakan hal yang lebih tinggi dari yang lain. Mintalah agar kau bisa redha dengan takdir-Nya, bersesuaianlah dengan kehendak-Nya, dan akhirnya luruhlah di dalam kehendak-Nya; inilah keadaan para badal dan ruhaniwan, orang yang tahu perihal Allah yang Maha kuasa lagi Maha agung. Bila kau mendapat rahmat, bersyukurlah, baik melalui lidah, hati mahupun anasir tubuh.

Bersyukurlah lidah berupa pengakuan bahawa rahmat berasal dari Allah dan penghindaran dari menisbahkannya kepada orang lain, yang melalui tangan-tangan mereka rahmat sampai. Sebab kau sendiri dan mereka hanyalah sarana-sarana sampainya rahmat. Pemberi dan pencipta sejati rahmat iaitu Allah, Yang Maha kuasa lagi maha agung. Maka Dia lebih patut disyukuri daripada yang lain. Misal, orang tak memandang budak yang membawa sebuah hadiah, sebagai pengirim hadiah itu, tetapi orang memandang pengirimnya adalah tuannya. Allah berfirman tentang orang yang tak bersikap selayaknya:
"Mereka mengetahui lahiriah kehidupan duniawi, sedang mengenai akhirat, mereka sungguh lalai." (QS 30:7)

Barangsiapa memandang lahiriah dan penyebab, sedang pengetahuannya tak melebihi ini, adalah jahil dan rosak fikiran. Istilah fikiran' digunakan untuk orang yang memahami akhir sesuatu. Bersyukurnya hati terletak pada keyakinan kukuh bahawa segala rahmat, kesenangan dan milikan yang kau punyai, berasal dari Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, bukan dari selain-Nya. Dan rasa-syukurmu melalui lidah menyatakan isi hatimu, sebagaimana firman-Nya:
"Dan apa pun nikmat yang ada padamu, berasal dari Allah." (QS 16:53)
"Dan (Ia) telah menyempurnakan nikmat-Nya padamu lahir dan batin." (QS 31:20)
"Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu takkan mampu menghinggakannya." (QS 14:34)

Nah, dengan semua pernyataan ini, maka tiada pemberi kurnia selain Allah. Dan bersyukurnya anasir tubuh terletak pada penggunaan anasir tubuh untuk mematuhi perintah-perintah-Nya guna menjauhi dari ciptaan-Nya. Maka janganlah menimpali makhluk, sebab di situ terdapat penentangan terhadap Allah; ciptaan termasuk dirimu sendiri, keinginanmu, maksudmu, kehendakmu dan segalanya. Patuhlah kepada Allah sepatuh-patuhnya. Jika kau bertindak lain, bererti kau menyimpang dari jalan lurus, menjadi aniaya, berperilaku tanpa perintah Allah yang diturunkan bagi hamba-hamba beriman-Nya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan para saleh. Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung berfirman:
"Barangsiapa tak menentukan dengan yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (QS 5:45)

Dengan begitu, kau menuju neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu. Bila kau tak tahan demam, untuk satu jam, di dunia ini, maka bagaimana kau bisa tahan, untuk selamanya, neraka bersama penghuni-penghuninya? Menjauhlah, menjauhlah; segeralah, segeralah, berlindunglah kepada Allah.

Jagalah keadaan-keadaan di atas dengan segala kondisinya, sebab kau tak bisa lepas dari keduanya sepanjang hayat --baik keadaan ditimpa musibah mahupun keadaan bahagia. Bersabarlah dan bersyukurlah dalam kedua keadaan itu, sesuai dengan yang telah kuterangkan kepadamu. Nah, jangan mengeluh, bila ditimpa musibah, kepada sesamamu, jangan menunjukkan kegundahanmu kepada siapa pun, jangan salahkan Tuhanmu di dalam benakmu, dan jangan ragukan kebijaksanaan dan pilihan-Nya akan yang terbaik bagimu di dalam kehidupanmu di dunia dan di akhirat. Dan jangan lari kepada orang guna mendapatkan jalan keluar, sebab, dengan begitu, kau bererti menyekutukan-Nya.

Tak satu pun berhak atas milikan-Nya, tak satu pun mampu memberikan mudharat, manfaat, atau menjauhkan kesulitan, menyebabkan sakit dan bencana, menyembuhkan dan memberi sesuatu kebaikan, kecuali Dia. Jangan menjerat oleh ciptaan, baik secara lahiriah mahupun batiniah, sebab mereka takkan menguntungkanmu. Bersabar dan redhalah selalu kepada Allah, dan luruhlah ke dalam kehendak-Nya.

Jika rahmat tercabut darimu, maka wajib bagimu minta tolong kepada-Nya, menunjukkan kerendah-dirian, mengakui dosa-dosamu, mengeluh kepada-Nya akan kejahatan dirimu dan akan penjauhkanmu dari kebenaran, mengesakan-Nya, mengakui rahmat-rahmat-Nya dan menyatakan keselarasanmu, sampai berakhirnya musibah dan berganti dengan kurnia-Nya, kemudahan dan kebahagiaan, sebagaimana hal itu terjadi pada diri Nabi Ayub; bak berlalunya gelapnya malam dan datangnya cerahnya siang, dan berlalunya dingin musim dingin, diganti sepoi musim semi dengan aroma harumnya. Sebab bagi segalanya ada pertentangan dan akhir. Maka kesabaran adalah kuncinya, awalnya, akhirnya dan jaminan kebahagiaannya. Inilah yang terungkap dalam Sunnah Nabi saw. "Kesabaran adalah keseluruhan iman."

Ambillah pelajaran dari yang telah kusebutkan kepadamu, jika Allah Yang Maha mulia menghendaki, maka kau akan terbimbing.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 58

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz

Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 58
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Butalah terhadap segala hal. Tutuplah matamu terhadap sesuatu pun dari hal-hal itu. Bila kau lihat sesuatu pun dari hal-hal itu, maka kurnia dan kedekatan Allah SWT akan tertutup bagimu. Oleh kerana itu, tutuplah segala hal dengan kesedaranmu akan keesaan Allah dan dengan peniadaan diri. Maka akan tampak oleh mata hatimu hal Allah SWT, dan kau akan melihatnya dengan kedua mata hatimu ketika hal itu tersinari oleh nur hatimu, nur imanmu dan nur keyakinan teguhmu. Pada saat itu cahaya ruhanimu akan mewujud pada lahiriahmu bak cahaya sebuah lampu di malam pekat yang mencuat melalui lubang-lubangnya sehingga sisi luar rumah menjadi cerah oleh cahaya dari dalam. Maka diri dan anasir tubuh akan merasa redha dengan janji Allah dan kurnia-Nya.

Maka dari itu, kasihanilah diri kita. Jangan berbuat aniaya terhadapnya. Jangan campakkan ia di kegelapan ketak-acuhan dan kebodohanmu, agar ia tak melihat ciptaan, daya, perolehan, sarana dan tak bertumpu pada hal-hal itu. Sebab jika kau lakukan hal itu, maka segala hal akan tertutup bagimu dan kurnia Allah akan tertutup pula bagimu lantaran kesyirikanmu. Nah, bila telah kau sedari keesaan-Nya, telah kau lihat kurnia-Nya, kau hanya berharap kepada-Nya dan telah kau butakan dirimu terhadap segalanya selain-Nya, maka Dia akan membuatmu dekat dengan Diri-Nya, akan mengasihimu, akan menjagamu, akan memberimu makanan, minuman dan perawatan, akan membuatmu bahagia, akan menganugerahimu kurnia-kurnia, akan menolongmu, akan menjadikan kau penguasa, akan menafikanmu dari ciptaan serta dari dirimu sendiri, dan akan membuatmu tiada, sehingga kau takkan melihat baik kemiskinanmu mahupun kekayaanmu.

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 57

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz

Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 57
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Segala pengalaman spiritual merupakan pengekangan, sebab sang wali diperintahkan untuk menjaga hal-hal itu. Segala yang diperintahkan untuk dijaga menimbulkan pengekangan. Berada dalam ketentuan Allah merupakan kemudahan, sebab yang diperintahkan hanyalah memaujudkan diri dalam ketentuan-Nya. Sang wali tak boleh bersitegang dalam masalah ketentuan-Nya. Ia harus selaras dan tak boleh bertentangan dengan segala yang terjadi pada dirinya, entah manis atau pahit. Pengalaman itu terbatas, maka dari itu diperintahkan untuk menjaga pengalaman itu. Di lain pihak, kehendak Allah, yang merupakan ketentuan, tak terbatas.

Isyarat bahawa hamba Allah telah mencapai kehendak-Nya dan kemudahan ialah diperintahkan-Nya ia untuk meminta kenikmatan-kenikmatan setelah diperintahkan untuk mencampakkannya dan menjauh darinya, sebab bila ruhaninya hampa akan kenikmatan, dan yang tinggal dalam dirinya hanyalah Tuhan, maka ia dimudahkan dan diperintahkan untuk meminta, mendambakan dan menginginkan hal-hal yang menjadi haknya dan yang bisa ia peroleh melalui permintaannya akan hal-hal itu, sehingga harga dirinya di mata Allah, kedudukannya dan kurnia Allah Yang Maha perkasa lagi Maha agung, dengan diterimanya doanya, menjadi kenyataan. Menggunakan lidah untuk meminta kenikmatan sangat menunjukkan hal setelah pengekangan dan keluar dari segala pengalaman, kedudukan dan dari upaya keras menjaga batas.

Bila ditolak bahawa lenyapnya kesulitan dalam menjaga hukum ini menyebabkan ateisme dan keluar dari Islam sebagaimana firman-Nya:
"Abdilah Tuhanmu sampai kematian datang kepadamu." (QS.15:99)

Jawabku ialah bahawa hal ini tak bererti begitu dan takkan begitu, tetapi bahawa Allah amat pemurah dan wali-Nya amat dicintai-Nya, sehingga Dia tak dapat mengizinkannya untuk menduduki suatu kedudukan hina di mata hukum dan agama-Nya. Sebaliknya, Dia menyelamatkannya dari semua itu, menjauhkannya dari semua itu, melindunginya dan menjaganya di dalam batas-batas hukum. Maka ia terlindung dari dosa dan senantiasa berada di dalam batas-batas hukum tanpa upaya dan perjuangan dari dirinya, sedang ia tak sedar akan keadaan ini dikeranakan oleh kedekatannya kepada Tuhannya. Allah berfirman:
"Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya ia adalah salah satu dari hamba-hamba terpilih kami." (QS.12:24)
"Sesungguhnya terhadap hamba-hamba-Ku kau tak berkuasa." (QS.15:42)
"Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan." (QS.37:40)

Duhai orang yang malang! Orang semacam itu dijauhkan oleh Allah dan ia adalah curahan-Nya. Dia memeliharanya dalam pangkuan kedekatan dan kasih-sayang-Nya. Bagaimana bisa si iblis mendekatinya. Bagaimana bisa kekejian mendekatinya. Semoga kekejian terhancurkan oleh daya dan kelembutan sempurnanya! Semoga Dia melindungi kita dengan perlindungan dan kasih-sayang sempurna sehingga kita senantiasa mampu menjauhkan diri dari dosa-dosa. Semoga Dia memelihara kita dengan rahmat-rahmat dan kurnia-kurnia sempurna-Nya melalui tindak kasih-sayang-Nya!

Futuuhul Ghaib [Penyingkap keghaiban] 56

Lillahi Ta'ala, Bismillah, Ta’awwuz


Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]

Risalah 56
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani



Bila hamba Allah telah lepas dari ciptaan, keinginan, diri, tujuan dan kehendak akan dunia dan akhirat, maka ia tak menghendaki sesuatu pun selain Allah yang Maha perkasa lagi Maha agung, dan segala suatu sirna dari hatinya. Maka ia menjadi pilihan-Nya, dicintai oleh ciptaan, dekat kepada-Nya dan menerima kurnia-Nya melalui rahmat-Nya. Dibukakan-Nya baginya pintu-pintu kasih dan janji-Nya, dan Ia tak pernah menutup pintu-pintu itu terhadapnya. Maka sang hamba memilih Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, berkehendak melalui kehendak-Nya, redha dengan keredhaan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan tak melihat suatu kemaujudan pun selain kemaujudan-Nya yang Maha kuasa lagi Maha agung. Maka Allah menjanjikan kepadanya dan tak memenuhi hamba-Nya, dan yang didambakan sama hamba dalam hal ini tak datang kepadanya, kerana keterpisahan lenyap dengan lenyapnya kehendak, tujuan dan pengupayaan kenikmatan. Maka keseluruhan dirinya menjadi kehendak Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Maka tiada janji atau pun pengingkaran janji dalam hal ini, kerana hal ini ada pada orang yang berkeinginan. Pada maqam ini, janji Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung terhadap orang semacam itu, dapat digambarkan dengan contoh seorang yang berkehendak di dalam dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu, lalu berubah kehendak terhadap sesuatu yang lain. Begitu pula, Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung telah menurunkan kepada Nabi Muhammad saw wahyu-wahyu yang membatalkan dan yang terbatalkan, sebagaimana firman-Nya: "Wahyu yang kami hapuskan atau jadikan terlupakan, Kami gantikan dengan yang lebih baik. Tidakkah kau tahu bahawa Allah berkuasa atas segala-nya?"" (QS.2:106)
Ketika Nabi saw. lepas dari keinginan dan kehendak, kecuali pada saat-saat tertentu, sebagaimana telah disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran Suci, sehubungan dengan tawanan perang Badar, sebagai berikut: " Kamu menginginkan barang-barang lemah dunia ini, sedang Allah menghendaki bagimu akhirat; dan Ia Maha kuasa lagi Maha bijaksana. Andaikan bukan kerana hukum Allah yang telah berlaku, sesungguhnya akan menimpamu siksaan yang besar atas yang kau lakukan."(QS.8:67-68)
Nabi saw adalah kekasih Allah, yang Ia senantiasa menempatkannya pada ketentuan-Nya dan memberikan kendali-Nya kepadanya; maka Ia menggerakkannya di tengah-tengah ketentuan-Nya dan senantiasa memperingatkannya dengan firman-firman-Nya:
"Tidakkah kau tahu bahawa Allah Mahakuasa atas segalanya?" (QS.2:106) Dengan kata lain, kamu berada di samudera ketentuan-Nya, yang gelombangnya mengombang-ambingkan kamu, kadang ke sini, kadang ke sana. Dengan demikian setelah wali ialah Nabi. Tiada maqam setelah wali dan badal selain maqam Nabi.