Futuuhul Ghaib
[Penyingkap keghaiban]
Risalah 56
Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani
Bila hamba Allah telah lepas dari ciptaan, keinginan, diri, tujuan dan kehendak akan dunia dan akhirat, maka ia tak menghendaki sesuatu pun selain Allah yang Maha perkasa lagi Maha agung, dan segala suatu sirna dari hatinya. Maka ia menjadi pilihan-Nya, dicintai oleh ciptaan, dekat kepada-Nya dan menerima kurnia-Nya melalui rahmat-Nya. Dibukakan-Nya baginya pintu-pintu kasih dan janji-Nya, dan Ia tak pernah menutup pintu-pintu itu terhadapnya. Maka sang hamba memilih Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, berkehendak melalui kehendak-Nya, redha dengan keredhaan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan tak melihat suatu kemaujudan pun selain kemaujudan-Nya yang Maha kuasa lagi Maha agung. Maka Allah menjanjikan kepadanya dan tak memenuhi hamba-Nya, dan yang didambakan sama hamba dalam hal ini tak datang kepadanya, kerana keterpisahan lenyap dengan lenyapnya kehendak, tujuan dan pengupayaan kenikmatan. Maka keseluruhan dirinya menjadi kehendak Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Maka tiada janji atau pun pengingkaran janji dalam hal ini, kerana hal ini ada pada orang yang berkeinginan. Pada maqam ini, janji Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung terhadap orang semacam itu, dapat digambarkan dengan contoh seorang yang berkehendak di dalam dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu, lalu berubah kehendak terhadap sesuatu yang lain. Begitu pula, Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung telah menurunkan kepada Nabi Muhammad saw wahyu-wahyu yang membatalkan dan yang terbatalkan, sebagaimana firman-Nya: "Wahyu yang kami hapuskan atau jadikan terlupakan, Kami gantikan dengan yang lebih baik. Tidakkah kau tahu bahawa Allah berkuasa atas segala-nya?"" (QS.2:106)
Ketika Nabi saw. lepas
dari keinginan dan kehendak, kecuali pada saat-saat tertentu, sebagaimana telah
disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran Suci, sehubungan dengan tawanan perang
Badar, sebagai berikut: " Kamu menginginkan barang-barang lemah dunia ini,
sedang Allah menghendaki bagimu akhirat; dan Ia Maha kuasa lagi Maha bijaksana.
Andaikan bukan kerana hukum Allah yang telah berlaku, sesungguhnya akan
menimpamu siksaan yang besar atas yang kau lakukan."(QS.8:67-68)
Nabi saw adalah kekasih
Allah, yang Ia senantiasa menempatkannya pada ketentuan-Nya dan memberikan
kendali-Nya kepadanya; maka Ia menggerakkannya di tengah-tengah ketentuan-Nya
dan senantiasa memperingatkannya dengan firman-firman-Nya:
"Tidakkah kau tahu
bahawa Allah Mahakuasa atas segalanya?" (QS.2:106) Dengan kata lain, kamu berada
di samudera ketentuan-Nya, yang gelombangnya mengombang-ambingkan kamu, kadang
ke sini, kadang ke sana. Dengan demikian setelah wali ialah Nabi. Tiada maqam
setelah wali dan badal selain maqam Nabi.
|
No comments:
Post a Comment