|
Ada sepuluh sifat pada
salik, pemawas-diri dan peraih tujuan ruhani.
-
Tak bersumpah dengan-Nya, entah benar atau tidak, entah sengaja
atau tidak. Sebab bila hal ini termapankan, dan lidah terbiasa dengannya, maka
hal ini membawanya kepada suatu kedudukan, yang di dalamnya ia mampu
menghentikan bersumpah dengan sengaja atau tidak. Nah, bila ia menjadi begini,
Allah membukakan baginya pintu nur-Nya. Hatinya tahu manfaat ini,
kedudukannya termuliakan, langkah dan kesabarannya terkuatkan. Maka, dipujilah
dan dimuliakanlah ia di tengah-tengah tetangga dan sahabatnya, sehingga yang
tahu dia, menghormatinya, dan yang melihatnya, takut kepadanya.
-
Menghindar dari berbicara tak benar, entah serius atau
bercanda. Sebab bila ia melakukan dan mengukuhkan hal ini pada dirinya sendiri,
dan lidahnya terbiasa dengannya, maka Allah membuka dengannya hatinya, dan
menjernihkan dengannya pengetahuannya, sehingga ia nampak tak tahu kepalsuan.
Bila ia mendengarnya dari orang lain, ia memandangnya sebagai noda besar, dan
termalukan olehnya. Bila ia memohon kepada Allah agar menjauhkannya, maka
baginya pahala.
-
Menjaga janji. Sungguh, hal ini demikian menguatkannya, sebab
mengingkari janji termasuk kepalsuan. Maka terbukalah baginya pintu kemurahan,
dan baginya kemuliaan, dan dicintailah ia oleh para shiddiq dan mulialah
ia di hadapan Allah.
-
Tak mengutuk sesuatu makhluk pun, tak merosak sesuatu pun,
meski sekecil atom pun, dan bahkan yang lebih kecil darinya. Sebab hal ini
termasuk tuntutan kebenaran dan kebaikan. Berlaku berdasarkan prinsip ini,
memperolehi husnul khatimah di bawah naungan-Nya, Ia meninggikan
kedudukannya, Ia melindunginya dari kehancuran, dan mengurniainya kasih sayang
dan kedekatan dengan-Nya.
-
Tak mendoakan keburukan bagi seorang pun, meski ia telah
dizalimi. Lidah dan geraknya tak mendendam, tapi bersabar demi Allah. Hal ini
membawanya kepada kedudukan mulia di dunia dan di akhirat. Ia menjadi dicintai
dan disayangi oleh semua penerima kebenaran, baik dekat mahupun jauh.
-
Tak berpihak kepada kemusyrikan, kekafiran dan kemunafikan
mereka yang se-kiblat. Sifat ini menciptakan kesempurnaan dalam mengikuti
Sunnah, dan amat jauh dari mencampuri pengetahuan Allah dan juga dari
penyiksaan-Nya, dan amat dekat dengan redha dan kasih sayang-Nya. Inilah pintu
kemuliaan dan keagungan dari Allah Yang Maha mulia, yang menganugerahkannya
kepada hamba beriman-Nya sebagai balasan atas kasih sayangnya terhadap semua
orang.
-
Tak melihat sesuatu kedosaan, baik lahiriah mahupun batiniah.
Mencegah anasir tubuhnya darinya, sebab hal ini merupakan suatu tindakan
tercepat dalam membawa balasan bagi hati dan anasir tubuh di dunia dan pahala di
akhirat. Semoga Allah menganugerahi kita daya untuk berlaku begini, dan
menjauhkan kedirian (penting diri) dari hati kita.
-
Tak membebani seorang pun, entah dengan beban ringan atau
berat. Tapi, melepaskan orang dari beban, entah diminta atau tidak. Hal ini
menjadikan hamba-hamba Allah dan para saleh mulia, dan memacu orang untuk
ber-amar ma'ruf nahi munkar. Hal ini menciptakan kemuliaan penuh bagi
hamba-hamba Allah dan para saleh, dan baginya segenap makhluk nampak sama. Maka
Allah membuat hatinya tak butuh, yakin dan bertumpu pada Allah. Allah tak
meninggikan seorang pun, bila masih terikat kedirian. Bagi orang semacam ini,
semua makhluk memiliki hak yang sama, dan mesti diyakini bahawa inilah pintu
kemuliaan bagi para mukmin dan para saleh, dan pintu terdekat kepada
keikhlasan.
-
Bersih dari segala harapan insan, dan tak merasa tergoda
hatinya oleh milikan mereka. Sungguh, inilah kemuliaan besar, ketakbutuhan
sejati, kerajaan besar, pujian agung, kepastian nan tegar kepasrahan sejati
kepada-Nya. Inilah pintu segala pintu kepasrahan kepada-Nya, yang memampukan
orang meraih ketakwaan kepada-Nya, dan pencipta ketertarikan sempurna
dengan-Nya.
-
Rendah hati. Dengan ini, sang hamba termuliakan dan sempurna di
hadapan Allah (Maha agung Dia) dan insan. Inilah sifat penyempurna kepatuhan,
dan dengannya sang hamba meraih kebajikan di kala suka dan duka, dan inilah
kesalehan nan sempurna. Rendah hati membuat sang hamba merasa rendah daripada
orang lain. Ia berkata, "Mungkin orang ini lebih baik dariku di hadapan Allah,
dan lebih tinggi kedudukannya." Mengenai orang kecil, sang hamba berkata, "Orang
ini tak menentang Allah, sedang aku menentang-Nya; sungguh ia lebih baik
dariku." Mengenai orang tua, sang hamba berkata, "Orang ini telah mengabdi
kepada-Nya sebelum aku." Mengenai orang alim, sang hamba berkata, "Orang ini
telah dianugerahi yang tak ada padaku, ia telah memperoleh yang tak kuperoleh,
ia mengetahui yang tak kuketahui, dan ia bertindak dengan pengetahuan." Mengenai
orang bodoh, sang hamba berkata, "Orang ini tak mematuhi-Nya kerana tak tahu,
dan aku tak mematuhi-Nya meski aku tahu, dan ku tak tahu akhir hayatku dan akhir
hayatnya." Mengenai orang kafir, sang hamba berkata, "Entahlah, mungkin ia akan
menjadi seorang Muslim, dan mungkin aku akan menjadi tak beriman."
Inilah pintu kasih
sayang dan ketakutan. Bila hamba Allah telah menjadi begini, maka Allah
menyelamatkannya dari segala bencana, dan menjadikannya pilihan-Nya, dan
menjadilah ia musuh Iblis, sang musuh Allah. Keadaan ini menciptakan pintu
kasih. Dengan mencapainya, pintu kebanggaan tertutup dan tali kesombongan diri
terputus, dan cita keunggulan diri, agamis, duniawi dan ruhani tercampakkan.
Inilah hakikat pengabdian kepada-Nya; Tiada sebaik ini. Dengan meraih keadaan
ini, lidah terhenti menyebut insan dunia dan yang sia-sia, dan karyanya tak
sempurna tanpa hal ini; kebencian, kepongahan dan keberlebihan terhapus dari
hatinya pada segala keadaan, lidahnya sama; orang baginya sama. Ia tak menegur
seseorang dengan keburukan, sebab hal ini membencanai hamba-hamba Allah dan
pengabdi-pengabdi-Nya, dan menghancurkan kezuhudan.
|
No comments:
Post a Comment